5 Jagapati 1 Rempeg 2 Makam

Cukup sulit bagi Penulis untuk mengulas kepahlawanan Mas Rempeg dalam Perang Bayu I hanya dalam sebuah tulisan singkat yang habis untuk sekali baca.

Betapa sulitnya, kisah perjuangan yang draft bukunya saja mencapai 400an halaman, kemudian harus ditulis sesingkat-singkatnya, menjadi seperti yang akan anda nikmati di bawah ini.

Mas Rempeg alias Jaka Pakis alias Pangeran Pakis adalah Senapati Jagapati ke-IV meneruskan estafet kepemimpinan jagabela Balambangan dari ayahnya Mas Bagus Wali (Senapati Jagapati ke-III) putra Bagus Sitra alias Mas Bagus Puri I (Senapati Jagapati ke-II) putra Mas Dalem Wiraguna (Senapati Jagapati ke-I) putra Kangjeng Suhunan Tawangalun.

Dalam catatan Penulis, Mas Rempeg bukan saudara se-ayah dari Mas Alit melainkan saudara se-kakek.

Ulah Mayor van Colmond dan Patih Jaksanagara

Kita mulai dari kisah kepahlawanan Mas Rempeg ketika dia menyelamatkan 40 orang wanita yang ditahan di kepatihan dan kemudian dibawa ke Bayu untuk bergabung dengan para pengungsi lainnya.

Para pengungsi itu adalah korban kekejaman komandan VOC-Belanda yang bernama Mayor Van Colmond, yang atas nama untuk menjaga keamanan, telah bertindak terlalu kejam terhadap rakyat.

Menurut Samsubur, Mayor van Colmond adalah sosok yang sangat bengis dan kejam. Dia mempekerjakan paksa penduduk tanpa upah, menyita sebagian besar dari hasil panen, dan menarikan pajak yang terlalu berat.

Di saat seperti itulah, Bapa Anti/Patih Jaksanagara justru bermain. Menurut Sri Margana, Jaksanagara memanfaatkan jabatannya sebagai patih, untuk melakukan tindakan korupsi terhadap dana yang terkumpul dari rakyat itu.

Bupati Baru dari Surabaya

Ada desas-desus bahwa Bupat Tumenggung Sutanagara dan Tumenggung Wangsengsari akan memberontak melawan Mayor Van Colmond.

BACA JUGA  JAGALARA; Pahlawan Balambangan yang terlupakan

Sebelum hal itu terjadi, pada bulan April 1771 kedua bupati diasingkan ke Selong/Sri Lanka.

Setelah itu, agar tidak terjadi perlawanan rakyat sebagaimana Perang Wilis 1767-1768, Gezaghebber Surabaya, Pieter Luzac, segera menarik Mayor Van Colmond ke Surabaya.

Untuk memimpin Kabupaten Blambangan, didatangkanlah Raden Tumenggung Kartanagara dari Surabaya dan ditunjuk sebagai Bupati yang baru.

Sementara Bapa Anti/Patih Jaksanagara ditunjuk sebagai Bupati kedua pada bulan Juni 1771.

Kedua bupati, pada dasarnya bukan trah Dinasti Tawangalun sehingga sulit diterima oleh rakyat. Karena itu terjadilah pelarian penduduk ke dalam hutan Bayu.

Ke tempat itulah kemudian Mas Rempeg membawa 40 orang wanita tawanan Bupati Tumenggung Jaksanagara.

Asal-usul Mas Rempeg

Dari rangkaian kronologi di atas, kemudian meletuslah Perang Bayu I antara bulan Agustus-Desember 1771.

Mas Rempeg didapuk oleh para tokoh di Bayu untuk menjadi pemimpin mereka. Di sanalah dia mulai menyandang gelar, Jagapati.

Mas Rempeg adalah salah seorang anggota keluarga dari Dinasti Wiragunan, yakni salah satu cabang Dinasti Tawangalun dari jalur selir, keturunan Mas Dalem Wiraguna.

Keluarga ini mengalami nasib mujur pada bagian akhir Sejarah Kerajaan Balambangan.
Setidaknya, dari sekian nama-nama anak selir Kangjeng Suhunan Tawangalun, nama Mas Dalem Wiraguna menjadi yang paling terkenal.

Kematian Mas Rempeg

Kita tidak akan mengulas kembali peristiwa Perang Bayu karena sudah banyak tulisan Penulis tentang itu. Setidaknya di ajisangkala.id sudah dapat dibaca di sini: https://ajisangkala.id/perang-bayu-1771/ dan di sini: https://ajisangkala.id/benarkah-perang-bayu-adalah-perang-etnis-dan-perang-agama/

Hari itu 18 Desember 1771 (yang tanggalnya kemudian dijadikan sebagai Hari Jadi Banyuwangi), Mas Rempeg yang tengah sakit (sekarat) menunjuk Patih Jagalara untuk menyamar sebagai dirinya.

Penunjukan ini penting karena pihak VOC-Belanda belum pernah melihat wajah Mas Rempeg, tidak tahu jika pemimpin merlawanan sebenarnya tengah sekarat.

BACA JUGA  Bedah Buku "Dari Balambangan Menjadi Banyuwangi"

Tanggal 19 Desember 1771 perang berlanjut sampai malam dengan dipimpin oleh Patih Jagalara dan Mas Ayu Wiwit.

Tentang Jagalara, dapat di baca di sini: https://ajisangkala.id/jagalara-pahlawan-balambangan-yang-terlupakan/

Ketika malam tiba, peperangan berakhir. Pasukan kedua belah pihak ditarik mundur. Begitu sampai di Benteng, para pejuang Balambangan mendapati Mas Rempeg telah gugur.

Polemik Dua Makam Jagapati

Saat ini, kita dapat menemukan dua buah makam yang dipercaya sebagai Makam Mas Rempeg. Adanya dua makam seperti ini tentu karena masyarakat mendengar memang ada dua Jagapati dalam Perang Bayu.

Yang pertama adalah Mas Rempeg yang merupakan Senapati Jagapati [IV] dan yang kedua adalah Patih Jagalara yang menggantikan Mas Rempeg sebagai Senapati Jagapati [V]. Maka benar ada dua orang tokoh Jagapati.

Kedua makam itu; yang pertama adalah sebuah makam yang tertulis bernama Pangeran Jagapati (Mas Rempeg) Raja Bayu. Letaknya di pemakaman umum Dusun Kertosari desa Gombolirang-Kabat.

Jaraknya tidak terlampau jauh ke arah timur dari Tegal Perangan-Songgon, atau di selatan Desa Macanputih-Kabat.

Makam kedua dikenal dengan makam Rempeg Jogopati (Mbah Rembug) alias Syeh Syamsul Arifin. Dulu, masyarakat menyebut tempat ini sebagai makam Wong Abang.

Terletak di Dusun Krajan, Desa Bunder-Kabat, lurus di selatan makam pertama. Jaraknya dari Tegal Perangan kira-kira juga sama.

Sumber: Samsubur, Sejarah Kerajaan Blambangan; Sri Margana, Perebutan Hegemoni Blambangan; I Made Sudja, Nagari Tawon Madu; C. Lekkerkerker, De Indische Gids; Aji Ramawidi, Dari Balambangan Menjadi Banyuwangi; Winarsih, Babad Blambangan; De Opkoms; Babad Tawangalun, Babad Bayu; dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like