EMPAT TOKOH ARYA DAMAR

Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan Majapahit di Palembang yang membantu Majapahit dalam usahanya untuk menaklukkan Bali pada tahun 1343. Pemerintah pusat Majapahit saat itu dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi.

By. Aji Ramawidi

Arya Damar dalam Suma Oriental

Suma Oriental karya Tome Pires

Palembang adalah bekas pusat pemerintahan Kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara, Sriwijaya. Di sana kemudian terjadi pertemuan arus budaya, antara kebudayaan Islam yang membentang dari Pasai hingga ke Palembang, dan kebudayaan Pagan yang membentang dari Palembang ke Gamispola. Di daerah-daerah yang dikuasai orang Pagan, terdapat kepercayaan untuk memakan mayat musuh yang telah mereka kalahkan.

Negeri Palembang yang luas, berbatasan dengan Jambi di satu sisi dan dengan Tanah Melayu di ujung Sumatera. Wilayah pedalaman hingga sepanjang Fansur berbatasan dengan Sekamoung, Tulangbawang, dan Andalas. Di pedalaman berbatasan dengan Negeri Pariaman, yang merupakan bagian dari Negeri Minangkabau. Kepulauan Monomby (Bukit Menumbing) dan Bangka di lepas pantai Palembang.

Palembang dikuasai oleh Pate Rodim (Raden Patah) dari Demak. Setelah Raden Patah menaklukkan Palembang, sejak itu Palembang tunduk kepada Demak. Palembang-pun tak lagi memiliki seorang raja, dan saat ini memiliki antara 10-12 orang Pate. Palembang adalah negeri terbaik yang dimiliki oleh Demak, bahkan melebihi negerinya sendiri. Sebagaian besar penduduknya adalah kaum Pagan dari kelas rendah. Juga terdapat beberapa Pate Pagan. Seluruh Pate itu telah gugur dalam perang di Malaka.

Demikian pula dengan Jambi di utara Palembang, penguasa Demak itu setelah merebut Palembang juga mendesak penguasa Pagan Jambi. Para Pate di Jambi juga mengakui kekuasaan Demak. Karena itu mungkin penduduk Palembang (dan Jambi) lebih mirip orang Jawa daripada orang Melayu atau Pasai.

Dahulu, Palembang memiliki rajanya sendiri, yang merupakan taklukkan dari Raja Majapahit di Jawa. Diantara raja bawahan Batara Tamarill dari Jawa adalah Sam Agy Palimbao, Sam Agy Singapura, dan Sam Agy Tmjompura. Ketika Sam Aji Palimbao mangkat, dia meninggalkan seorang putera bernama Paramjcura (Parameswara) yang menikah dengan keponakan Batara Tamarill bernama Paramjcure. Sayangnya kemudian Paramjcura melawan kakak iparnya itu untuk menjadi raja yang merdeka.

Batara Tamarill dibantu raja Tanjung Puting (Tanjungpura) menyerang Palimbao, bermaksud membunuh dan menghancurkannya. Batara Tamaril menghancurkan Bangka dan membunuh semua penduduknya, kemudian menghadapi 6.000 tentara Palimbao. Dalam perang itu Paramjcura kalah dan melarikan diri bersama keluarganya, meminta perlindungan kepada Sam Agy Singapura yang juga bawahan Batara Tamarill

Arya Damar dalam Sumber-sumber dari Bali

Ilustrasi Perang Penaklukan Bali

Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan Majapahit di Palembang yang membantu Majapahit dalam usahanya untuk menaklukkan Bali pada tahun 1343. Pemerintah pusat Majapahit saat itu dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi. 

Dikisahkan, Arya Damar memimpin 15.000 prajurit menyerang Bali dari arah utara, sedangkan Gajah Mada menyerang dari selatan dengan jumlah prajurit yang sama. Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Ularan yang terletak di pantai utara Bali. Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan.

Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan. Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawaringin, Arya Sentong, dan Arya Belog. Selanjutnya, Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Dia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang.

Sejarawan Prof. Berg menganggap Arya Damar yang menaklukkan Bali ini identik dengan tokoh Adityawarman, yaitu penguasa Pulau Sumatera bawahan Majapahit. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347 sehingga jelas kalau dia memang hidup sezaman dengan Arya Damar.

Berg berpendapat demikian karena Arya Damar adalah penguasa Sumatra dan Adityawarman juga penguasa Sumatra. Karena keduanya hidup pada zaman yang sama, maka cukup masuk akal apabila kedua tokoh ini dianggap sebagai satu orang yang sama. Di samping itu, karena Adityawarman adalah putra Dara Jingga, maka Arya Damar dan adik-adiknya juga dianggap sebagai anak-anak putri Melayu tersebut.

Namun, daerah yang dipimpin Adityawarman bukan Palembang, melainkan Pagaruyung, sedangkan kedua negeri tersebut terletak berjauhan. Palembang sekarang masuk wilayah Sumatera Selatan, sedangkan Pagaruyung berada di Sumatera Barat. Beruntung ada keterangan berita Tiongkok dari Dinasti Ming (1368-1644) yang menyebutkan bahwa di Pulau Sumatra terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa (Majapahit). Tiga kerajaan tersebut adalah;

  • Palembang,
  • Dharmasraya, dan
  • Pagaruyung.

Dengan demikian, Arya Damar bukan satu-satunya raja di Pulau Sumatera, begitu pula dengan Adityawarman. Arya Damar di Palembang, sedangkan Adityawarman di Pagaruyung. Oleh karena itu, Arya Damar tidak harus identik dengan Adityawarman.
Jadi, meskipun Arya Damar dan Adityawarman hidup pada zaman yang sama, serta memiliki jabatan yang sama pula, namun keduanya belum tentu identik. Arya Damar adalah raja Palembang sedangkan Adityawarman adalah raja Pagaruyung. Keduanya merupakan wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatera

Arya Damar dalam Catatan H.J. de Graaf

Buku Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa karya H.J. de Graaf

Dalam cerita tutur Jawa-Bali mengenai direbutnya Bali oleh Majapahit, Arya Damar dari Palembang memiliki peran penting. Konon dia adalah saudara raja Majapahit dan sahabat Gajah Mada. Dalam cerita tutur Palembang, nama tokoh penting yang dikenal adalah Arya Dilah. Suatu nama yang di tempat lain konon juga dipakai oleh Arya Damar, yakni Jaka Dilah putera raja Majapahit. Sementara dalam cerita tutur Jawa mengenai awal mula penyebaran Islam di Jawa, Palembang menempati peran yang sangat penting. Lagi-lagi tokoh yang bernama Arya Damar dianggap sebagai ayah angkat Raden Patah, pendiri Demak.

Sebagai tokoh pahlawan legendaris yang terkenal, nama besar Arya Damar selalu diingat oleh masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Jawi, bahkan nama ayah angkat Raden Patah, juga ditulis bernama Arya Damar.

Babad Tanah Jawi disusun ulang oleh W.L. Olthof

Dikisahkan ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri raja Majapahit (versi babad). Wanita itupun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapuri. Endang Sasmintapuri pun dipersembahkan kepada raja Majapahit untuk dijadikan istri. Namun, ketika sedang mengandung, Endang Sasmintapuri kembali dalam wujud raksasa karena makan daging mentah.

Wanita itupun diusir oleh sang raja Majapahit sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sang raja Majapahit itu kemudian diberi nama Jaka Dilah. Kelak setelah dewasa, Jaka Dilah mengabdi ke Majapahit.

Suatu hari, raja Majapahit itu ingin berburu dan Jaka Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan ke halaman istana. Sang raja sangat gembira melihatnya dan akhirnya mengakui Jaka Dilah sebagai putranya. Kemudian Jaka Dilah diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Arya Damar. Tokoh ini, menurut analisis Siwi Sang, adalah sama dengan Damarwulan yang telah berjasa mengalahkan Menak Jinggo dalam Serat Damarwulan itu.

Lain lagi dengan naskah dari Jawa Barat; Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten. Naskah-naskah tersebut menyebut bupati Palembang saat itu bernama Arya Dilah.

Dikisahkan ada seorang perdana menteri “Munggul” bernama Cek Ko Po yang mengabdi ke Majapahit. Putranya yang bernama Cu Cu berhasil memadamkan pemberontakan Arya Dilah bupati Palembang. Raja Majapahit sangat gembira dan mengangkat Cu Cu sebagai bupati Demak. Pemberontakan Palembang ini kemungkinan terjadi sekitar tahun 1475 atau setelah Cek Ko Po mangkat sehingga Cu Cu puteranya, dapat menggantikan kedudukannya sebagai bupati Demak.

BACA JUGA  PRABU TAWANGALUN

Menurut Serat Kandha, Sultan Trenggana dari Demak juga memperistri salah satu puteri Adipati Palembang, yang juga bernama Arya Damar. Penguasa Palembang inilah yang membantu Demak dalam menaklukkan Daha/Kadhiri.

Para penguasa Palembang merasa memiliki hubungan dengan para penguasa Demak, karena itu mereka selalu bahu membahu, termasuk ketika menyerang Malaka tahun 1512. Mungkin para penguasa Palembang masih keturunan Arya Damar juga.

Setelah kematian Sultan Trenggana tahun 1546, berbagai cerita tutur di Palembang menceritakan kedatangan seorang Pangeran Jawa, yang berangkat dari Surabaya, sehingga dikenal dengan Ki Gedeng Sura I. Dia meninggalkan Jawa karena adanya permusuhan dengan Sultan yang baru di Pajang. Kemungkinan pusat pemerintahan Ki Gedeng Sura I ini adalah reruntuhan kuna di sebelah timur kota Palembang yang kini disebut sebagai Geding Suro.

Dalam sebuah dokumen Belanda tahun 1818 tentang Dinasti Palembang, disebut adanya sebuah ‘Piagem Pangeran Jipang’ yang dari namanya saja telah memungkinkan kita untuk menduga bahwa Ki Gedeng Sura I ini berhubungan dengan Dinasti Demak cabang Jipang. Mereka terusir dari Negaranya karena naiknya Sultan baru di Pajang. Kemungkinan keberangkatan Ki Gedeng Sura itu sekitar tahun 1546-1549, atau setelah konflik yang mengiringi suksesi tahta Demak pasca kematian Sultan Trenggana.

Diceritakan pula bahwa Ki Gedeng Sura I ini kemudian kembali lagi ke Jawa dan meninggal di Jawa.

Selanjutnya ada nama Ki Gedeng Sura II yang diduga sebagai adik dari yang pertama. Dia memerintah di Palembang antara tahun 1572-1589. Konon dia hidup sejaman dengan Ratu Kalinyamat di Jepara dan dua kali pula ikut serta menyerang Malaka pada tahun 1551 dan 1574.

Disebutkan pula dalan cerita sejarah Pathani di Thailand selatan bahwa negeri itu pernah mendapat serangan dari Jawa-Palembang sekitar tahun 1563. Serangan ke Malaka tahun 1551 dan ke Pathani tahun 1563 mungkin terjadi saat Palembang masih dipimpin oleh Ki Gedeng Sura I, dan serangan ke Malaka tahun 1574 terjadi saat Palembang dipimpin oleh Ki Gedeng Sura II.

Djayaningrat menyebutkan dalam bukunya Banten, bahwa pada tahun 1596 Sultan Banten Maulana Muhammad diajak oleh Pangeran Mas (trah Demak yang mengungsi di Banten) untuk menaklukkan Palembang. Dalam Sadjarah Banten, penguasa Palembang tersebut bernama Soro. Identik sekali dengan nama Ki Gedeng Sura, mungkin anaknya, karena menurut cerita Palembang, Ki Gedeng Sura II berkuasa hanya sampai tahun 1590.

Anggapan Pangeran Mas bahwa Soro adalah bekas bawahannya sewaktu di Demak mungkin karena Soro (mungkin keturunan Ki Gedeng Sura) adalah keluarga dari jalur Jipang, dimana Arya Penangsang (penguasa Jipang) dianggap sebagai penyebab kematian Sunan Prawata (Demak) yang merupakan sepupu Pangeran Mas.

Maka dengan mengalahkan Soro dan merebut Palembang darinya, dianggap sama dengan membalaskan dendam Sunan Prawata.

Mari kita Identifikasi para Arya Damar ini;

ARYA DAMAR I/Sang Aji Palembang (sekitar antara 1330an s/d 1377an)

Kerajaan Melayu didirikan oleh keturunan Palembang

Palembang adalah bekas pusat pemerintahan Kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara, Sriwijaya. Ketika Kertanegara dari Singhasari mengadakan Pamalayu, Negeri Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung menjadi negeri-negeri yang masuk dalam persekutuan Jawa itu untuk menghadapi ekspansi Mongol yang sedang gencar-gencarnya.

Hal ini tercatat dalam Kronik Tiongkok dari Dinasti Ming (1368-1644) bahwa di Pulau Sumatera terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa. Tiga kerajaan tersebut adalah; Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung.

Penguasa di Pagaruyung adalah Adityawarman. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347. Adityawarman adalah putra Dara Jingga, putri taklukkan dari Melayu pada masa akhir Singhasari. Sedangkan penguasa Palembang adalah Arya Damar. Dia adalah nama seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-14 sebagai bawahan Majapahit. Kira-kira sejaman dengan masa hidup Adityawarman.

Selanjutnya, kekuasaan Jawa atas tanah Melayu (Sumatera dan Semananjung) diteguhkan lagi ketika Majapahit di bawah Maharaja Sri Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada melakukan Ekspedisi Palapa.

Negarakretagama menyebutkan daerah-daerah yang berada dalam naungan Majapahit di Swarnabhumi, yaitu; Negeri Melayu, Negeri Jambi, Negeri Sriwijaya/Palembang, Negeri Karintang (di selatan Jambi), Negeri Teba (Muarabungo-Tebo).

Kemudian juga Negeri Dharmasraya, Negeri Kandis (di utara Dharmasraya), Negeri Kahwas (di barat Minangkabau), Negeri Siak (Siak Sri Indrapura), Negeri Rokan, Negeri Mandahiling (Mandailing Natal), Negeri Panai, Negeri Kampe/Kampar.

Selanjutnya adalah Negeri Haru/Aru (di Kalue Aceh), Negeri Tumihang (Temiang Aceh), Negeri Parlak (di Aceh), Negeri Lawas (Gayo Lues), Kesultanan Samudera Pasai, Negeri Lamuri (Aceh Besar), Negeri Barus, Negeri Batan (Batam/Bintan?), dan Negeri Lampung.

Dahulu, Palembang memiliki rajanya sendiri, yang merupakan taklukkan dari Raja Majapahit di Jawa.

Diantara raja bawahan Batara Tamarill/Maharaja Sri Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk (1350-1489) dari Jawa adalah Sam Agy Palimbao, Sam Agy Singapura, dan Sam Agy Tamjompura.

Tome Pires

Sam Agy Palimbao/Sangaji Palembang atau Raja Palembang pada masa Hayam Wuruk. Tokoh ini identik dengan Arya Damar sebagaimana disebutkan dalam cerita tutur Jawa-Bali yang terlibat dalam penaklukkan Bali oleh Majapahit tahun 1343. Konon dia adalah saudara raja Majapahit dan sahabat Gajah Mada.

Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan Majapahit di Palembang yang membantu Majapahit dalam usahanya untuk menaklukkan Bali pada tahun 1343 bersama adik-adiknya; Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Selanjutnya, Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Dia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.

Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang. Dia meninggalkan seorang anak di Bali yang bernama Menak Badong.

Tome Pires mengatakan, ketika Sam Aji Palimbao (Arya Damar) mangkat, dia meninggalkan seorang putera bernama Paramjcura (Parameswara) yang menikah dengan keponakan Batara Tamarill/Hayam Wuruk bernama Paramjcure. Sayangnya kemudian Paramjcura melawan kakak iparnya itu untuk menjadi raja yang merdeka.

Batara Tamarill/Hayam Wuruk kemudian mengerahkan pasukan Majapahit dibantu oleh raja Tanjung Puting (Tanjungpura) untuk menyerang Palembang. Dalam perang itu Parameswara kalah dan melarikan diri bersama keluarganya, meminta perlindungan kepada Sam Agy Singapura yang juga bawahan Batara Tamarill.

Pemberontakan Palembang ini tercatat dalam Kronik Tiongkok dari Dinasti Ming, bahwa Majapahit berhasil memadamkan pemberontakan Palembang tahun 1377. Peristiwa ini menjadi sebab awal larinya Pangeran Palembang, Paramjcura/Parameswara putra Sam Agy Palimbao/Raja Palembang (Arya Damar), ke Singapura lalu mendirikan kerajaan Malaka.

Dalam sejarah dinasti Palembang awal, tidak ada yang mampu mengalahkan keharuman nama Arya Damar sebagai Penakluk Bali tahun 1343. Apalagi puteranya, Prameswara, justeru memberontak dan kalah, dengan demikian nama Arya Damar tetap tidak tertandingi.

Karena itu dalam cerita tutur di Jawa, Palembang, Bali, bahkan Madura, nama Arya Damar sebagai Adipati Palembang ini tak tergantikan. Nama itu selalu dihubungkan dengan sejarah lainnya yang berkaitan dengan Palembang hingga ratusan tahun kemudian. Dengan demikian akan kita temukan beberapa nama Arya Damar yang hidup di masa yang berbeda, yang terkadang saling tumpang tindih dan sering dianggap sebagai satu orang yang sama.

Sepeninggal tokoh Arya Damar yang pertama (sebelum tahun 1377) ini, maka Majapahit menunjuk orang lain sebagai penguasa Palembang yang baru. Nama tokoh ini tak dikenal atau kalah pamor dengan nama Arya Damar yang pertama di atas sehingga seolah penguasa kedua ini hilang dari catatan sejarah atau terserap dan dianggap bernama Arya Damar pula. Tokoh penguasa Palembang kedua ini kelak dikalahkan oleh Bajak Laut Chen Yuzi.

BACA JUGA  MENGENAL KERAJAAN BLAMBANGAN*

Selanjutnya, Bajak Laut Chen Yuzi sendiri kelak akan dikalahkan oleh armada Laksamana Muhammad Cheng Ho tahun 1407. Saat itu Majapahit sedang lemah pasca Paregrek 1401-1406, sehingga tidak dapat mengontrol seluruh wilayah kekuasaannya di luar Jawa.

Setelah itu ada kemungkinan Laksamana Muhammad Cheng Ho kemudian menunjuk pemimpin baru yang yuridiksinya di bawah kekuasaan Tiongkok. Penguasa Palembang ketiga, yang juga tak dikenal namanya ini, berkuasa antara 1407-1433.

ARYA DAMAR II/Damarwulan (kira-kira antara 1433 s/d sebelum 1470)

Ilustrasi Damarwulan Menak Jinggo (by. Kent Ali)

Kemudian nama Arya Damar kedua (Arya Damar II) muncul sesudah 1433. Inilah Arya Damar putera Maharaja Majapahit itu.

Dikisahkan dalam cerita Jawa, ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri raja Majapahit (versi babad). Wanita itupun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapuri. Dia kemudian dipersembahkan kepada raja Majapahit untuk dijadikan istri. Namun, ketika sedang mengandung, Endang Sasmintapuri kembali dalam wujud raksasa karena makan daging mentah. Wanita itupun diusir oleh sang raja Majapahit sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan Wanasalam, di selatan Trowulan.

Putra sang raja Majapahit itu kemudian diberi nama Jaka Dilah. Kelak setelah dewasa, Jaka Dilah mengabdi ke Majapahit. Suatu hari, raja Majapahit itu ingin berburu dan Jaka Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan ke halaman istana. Sang raja sangat gembira melihatnya dan akhirnya mengakui Jaka Dilah sebagai putranya. Kemudian Jaka Dilah diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Arya Damar II.

Tokoh Arya Damar II ini, menurut analisis Siwi Sang dalam buku Girindra Pararaja Tumapel Majapahit, sama dengan tokoh Damarwulan yang telah berjasa mengalahkan Menak Jinggo dalam cerita dongeng; Serat Kandha dan Serat Damarwulan.

Dikisahkan dalam dongeng yang isinya mengutip peristiwa Paregrek 1401-1406 itu, bahwa Bhre Wirabhumi II (Pararaton) atau Sri Bhatara Rajanatha (Prasasti Bilukluk) atau Kebo Mercuet (Serat Kandha) melakukan makar melawan pemerintah Majapahit.

Lalu raja Majapahit saat itu Wikramawardhana (Pararaton) atau Brawijaya (Dongeng Serat Kandha dan Serat Damarwulan) mengadakan Swayamwara yang memunculkan tokoh Bhra Narapati/ Raden Gajah (Pararaton) atau Jaka Umbaran (Dongeng Serat Kandha dan Serat Damarwulan) yang kemudian dapat mengalahkan Kebo Mercuet.

Bhra Narapati/Raden Gajah alias Jaka Umbaran ini kemudian diangkat menggantikan kedudukan Kebo Mercuet. Di sana Jaka Umbaran menyandang gelar Menak Jinggo. Karena telah naik status, Menak Jinggo kalap dan merasa layak meminang puteri raja Majapahit Kencanawungu (Dongeng Serat Kandha dan Serat Damarwulan) atau Suhita (Pararaton). Maka Kencanawungu mengadakan Swayamwara lagi dan muncullah tokoh Damarwulan (Dongeng Serat Kandha dan Serat Damarwulan) atau Arya Damar-wulan (Analisis Siwi Sang).

Jika Dongeng Serat Kandha dan Serat Damarwulan mengisahkan bahwa Damarwulan kemudian menjadi raja Majapahit dan menikahi Kencanawungu, namun Siwi Sang berpendapat bahwa Arya Damar-wulan diangkat sebagai Adipati Palembang. Tentu setelah menggusur dominasi Tiongkok yang telah menguasai Palembang sejak 1407. Peristiwa ini diperkirakan terjadi tahun 1433/1434. Jadi Arya Damar II ini teridentifikasi sama dengan tokoh Damarwulan yang karena jasanya memberantas pemberontakan Menak Jinggo tahun 1433 kemudian diganjar jabatan sebagai Adipati Palembang.

Arya Damar II ini adalah anak raja Majapahit yang bergelar Hyang Wisesa. Di Majapahit ada dua raja yang bergelar Hyang Wisesa, yang pertama adalah Aji Wikramawardhana (1389-1416) dan yang kedua adalah Girisawardhana Dyah Suryawikrama (1456-1466).

Jika Hyang Wisesa yang dimaksud adalah Dyah Suryawikrama, maka akan terlalu muda. Kemungkinan besar raja Majapahit ayah Arya Damar II ini adalah Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana Dyah Gagak Sali. Maka dapat diperkirakan bahwa Arya Damar II ini hidup pada masa kekuasaan Suhita dan Kertawijaya sekitar 1437-1451. Menurut Analisis Siwi Sang, Arya Damar-wulan adalah putera dari Maharaja Aji Wikramawardhana dari selir Bhre Mataram III Dyah Aniswari (Pararaton) atau Sasmitapuri (Babad Tanah Jawi) atau Dewi Alun (cerita rakyat).

Karena dalam Serat Damarwulan dia menikahi Dewi Wahita, puteri bangsawan Madura, tentu dari garis keturunan inilah kemudian lahir Arya Manak Sunaya yang menjadi leluhur raja-raja Madura sesudahnya.

Sedangkan dari cerita Palembang kita menemukan keterangan bahwa Aya Damar menikah dengan puteri Demang Lebar Daun (putera Sultan Mufti dari Pagaruyung). Kemungkinan dari istri permaisurinya yang ini hanya dikaruniai seorang anak perempuan saja.

ARYA DAMAR III/Arya Dilah (kira-kira antara sebelum 1470 s/d 1521)

Ilustrasi senjata api era Majapahit. Suatu teknologi yang kabarnya sangat dikuasai Arya Dilah

Dalam sumber-sumber dari Jawa Barat dikisahkan bahwa pada tahun 1392 S/1470 M, Semarang pernah mendapat serangan dari koalisi Matahun-Mataram-Demak. Akibat serangan ini, Adipati Samarang Aji Katwang gugur dan digulingkan dari kekuasaannya.

Peristiwa penyerangan ini, kemudian dibalas oleh Adipati Palembang Arya Dilah, dengan mengirimkan sekitar 10.000 balatentara. Dalam waktu singkat, Semarang berhasil dikuasai oleh tentara koalisi Palembang-Bintara-Terung-Surabaya-Pengging. Selanjutnya Adipati Arya Dilah, menikah-kan puteranya, Raden Sahun, dengan puteri Adipati Aji Katwang, yang bernama Nyai Sekar Kedaton. Sekaligus mengangkat puteranya itu, menjadi Adipati Semarang yang baru.

Dikisahkan juga dalam Hikayat Hasanudin itu, ada seorang perdana menteri “Munggul” bernama Cek Ko Po yang mengabdi ke Majapahit. Dia berjasa menaklukkan Cirebon pada tahun 1470, sedangkan putranya yang bernama Cu Cu berhasil memadamkan pemberontakan Arya Dilah bupati Palembang. Pemberontakan Palembang ini kemungkinan terjadi sekitar tahun 1475 atau setelah Cek Ko Po (ayah Cu Cu) mangkat sehingga Cu Cu puteranya, dapat menggantikan kedudukan ayahnya itu sebagai bupati Demak.

Dari dua kisah di atas, garis besarnya adalah; Arya Dilah membantu memadamkan kerusuhan di Semarang (1470) dan Arya Dilah sendiri kemudian memberontak melawan Majapahit (1475). Mengenai alasan Arya Dilah memberontak tidak ada keterangan, mungkin ada kaitannya dengan penempatan puteranya, Raden Sahun, di Semarang.

Mengingat Semarang di Jawa lebih dekat dengan Majapahit yang tentu pengangkatan penguasa di Semarang ada di tangan raja Majapahit. Karena itu ketika Arya Dilah menempatkan Raden Sahun di Semarang, mungkin Maharaja Sri Adi Suraprabhawa tidak berkenan sehingga terjadi konflik diantara mereka.

Cu Cu (Sadjarah Banten) atau Pate Rodim (Suma Oriental) atau Raden Patah (Babad Tanah Jawi) dari Demak berhasil memadamkan pemberontakan Palembang tersebut, sehingga Palembang (dan Jambi) tunduk kepada Demak. Palembang-pun tak lagi memiliki seorang raja, melainkan hanya Adipati. Tome Pires menyebut ada sekitar 10-12 orang Pate. Diantaranya adalah beberapa Pate Pagan (non muslim). Yang jelas, Cu Cu berhasil melaksanakan tugas memadamkan pemberontakan Arya Dilah di Palembang.

Arya Dilah menjadikan Cu Cu sebagai anak angkat dan memberinya gelar Pangeran Palembang Anom (Hikajat Hasanuddin). Kemudian Cu Cu/Pangeran Palembang Anom kembali ke Jawa bersama salah satu putera Arya Dilah yang bernama Raden Kusen. Keduanya menghadap ke Majapahit. Raja Majapahit (Sri Adi Suraprabhawa) sangat gembira mendengar keberhasilan Cu Cu dan mengangkatnya sebagai bupati Demak (menggantikan ayahnya, Cek Ko Po yang sudah meninggal). Sedangkan Raden Kusen mengabdi di Majapahit, diangkat sebagai Pecattanda di Terung.

Pemberontakan Palembang yang dipadamkan oleh Cu Cu ini berbeda dengan Pemberontakan Palembang yang tercatat dalam Kronik Tiongkok dari Dinasti Ming, tahun 1377. Pemberontakan Palembang 1377 terjadi pada masa pemerintahan Maharaja Sri Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk (1350-1489) dan menjadi sebab awal larinya Pangeran Palembang, Paramjcura putra Sam Agy Palimbao, ke Singapura lalu mendirikan kerajaan Malaka.

Sedangkan pemberontakan Palembang sekitar tahun 1475 yang dipadamkan oleh Cu Cu terjadi pada masa pemerintahan Maharaja Majapahit terakhir Sri Adi Suraprabhawa (1466-1478) yang menjadi awal naiknya karir Cu Cu sebagai Adipati Demak.

BACA JUGA  JENIS KELAMIN DYAH LĔMBU TAL MENURUT SUMBER PRASASTI

Mungkin pengarang Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten pernah mendengar berita pemberontakan Palembang terhadap Majapahit tersebut, namun dia tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa itu terjadi. Pemberontakan Palembang 1377 dan berdirinya Demak 1478 dikisahkannya sebagai satu rangkaian, padahal sesungguhnya, kedua peristiwa tersebut berselang 100 tahun.

Mengapa Naskah Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten menyebut nama bupati Palembang itu adalah Arya Dilah, bukan Arya Damar? Apakah tokoh ini sama dengan Jaka Dilah dalam Babad Tanah Jawi? Mengingat keduanya juga dikaitkan dengan nama besar Arya Damar. Atau Jaka Dilah dan Arya Dilah ini adalah penguasa Palembang ketiga yang menyandang gelar Arya Damar? Analisis penulis, mungkin dia adalah salah satu putra Arya Damar II. Paling tidak mungkin dia adalah menantu dari Arya Damar II.

Kita menemukan jawabannya dalam Naskah Mertasinga dari Cirebon yang mengatakan bahwa Arya Damar (II) tidak memiliki anak laki-laki dari permaisurinya (putri Demang Lebar Daun) sehingga suatu saat datanglah seorang saudagar Tionghoa bernama San Po Talang yang kemudian menjadi menantunya. San Po Talang inilah yang meneruskan tahta Arya Damar II.

Pengangkatan Sam Po Talang ini mendapat restu dari Majapahit, sehingga raja Majapahit saat itu (Sri Kertawijaya) memberikan salah satu selirnya yang bernama Banyowi (versi lain Ratna Siu Ban Ci) untuk diperistri. Kelak ketika Ali Rahmat singgah di Palembang dalam perjalanannya ke Jawa, San Po Talang dan keluarganya masuk islam. San Po Talang kemudian mendapat nama muslim, Abdillah. Mungkin ini asal-usul nama Arya Dilah (Sadjarah Banten) atau Jaka Dilah (Babad Tanah Jawi).

San Po Talang/Arya Dilah memiliki tiga orang istri; Permaisurinya tentu adalah puteri Arya Damar II yang kelak menurunkan Adipati Palembang selanjutnya. Istri keduanya adalah putri China asal Majapahit, Banyowi/Ratna Siu Ban Ci, yang kemudian melahirkan Raden Kusen Pecattandha Terung.

Sedangkan istri ketiganya adalah Nyimas Sahilan (putri Menak Usang Sekampung) dan melahirkan anak bernama Raden Sahun/Sunan Pandanarang Adipati Semarang. Arya Damar III sendiri kemungkinan gugur dalam perang melawan Portugal di Malaka bersama Pangeran Sabrang Lor dari Jepara-Demak) tahun 1521.

ARYA DAMAR IV (kira-kira antara 1521 s/d 1549)

Ilustrasi Masjid Agung Demak lama

Satu lagi yang teridentifikasi sebagai Arya Damar. Mungkin ini yang terakhir. Menurut Serat Kandha, Sultan Trenggana, raja Demak ke-III juga memperistri salah satu puteri Adipati Palembang, yang juga bernama Arya Damar. Jika Arya Damar III/Arya Dilah menjadikan Raden Patah sebagai anak angkatnya dengan gelar Pangeran Palembang Anom, maka Trenggana (anak Raden Patah) bisa dianggap setingkat dengan cucu Arya Damar III.

Jadi, kalau berita ini benar, tentu Arya Damar yang menjadi mertua Trenggana tersebut adalah pengganti Arya Damar III, mungkin putranya dan bergelar Arya Damar IV. Arya Damar yang ini segenerasi dengan Raden Kusen dan Raden Patah. Penguasa Palembang inilah yang membantu Demak dalam menaklukkan Daha/Kadhiri tahun 1527. Ini adalah generasi Arya Damar terakhir karena sesudahnya, penguasa Palembang digantikan oleh Dinasti Demak cabang Jipang.

Dari karya Brandes kita menemukan keterangan lain tentang Palembang. Brandes menyebutkan bahwa setelah kematian Sultan Trenggana tahun 1546, berbagai cerita tutur di Palembang menceritakan kedatangan seorang Pangeran Jawa, yang berangkat dari Surabaya, sehingga dikenal dengan Ki Gedeng Sura I. Dia meninggalkan Jawa karena adanya permusuhan dengan Sultan yang baru di Pajang. Dan sebagaimana kita tahu saat itu yang berhadap-hadapan dengan Pajang adalah Arya Penangsang, penguasa Jipang Panolan.

Hal ini dikuatkan dengan adanya dokumen Belanda tahun 1818 tentang Dinasti Palembang. Di sana disebutkan tentang adanya sebuah ‘Piagem Pangeran Jipang’ yang dari namanya saja telah memungkinkan kita untuk menduga bahwa Ki Gedeng Sura I ini berhubungan dengan Dinasti Demak cabang Jipang yang terusir dari Negaranya, siapa lagi jika bukan Arya Penangsang itu sendiri.

Kemungkinan keberangkatan Ki Gedeng Sura I/Arya Penangsang itu sekitar tahun 1546-1549, atau setelah konflik yang mengiringi suksesi tahta Demak pasca kematian Sultan Trenggana. Diceritakan pula bahwa Ki Gedeng Sura I/Arya Penangsang ini kemudian kembali lagi ke Jawa dan meninggal di Jawa.

Selanjutnya ada nama Ki Gedeng Sura II yang diduga sebagai adik dari yang pertama. Siapa lagi jika bukan Arya Mataram, adik Arya Penangsang. Dia memerintah di Palembang menggantikan kakaknya antara tahun 1572-1589. Konon dia hidup sejaman dengan Ratu Kalinyamat di Jepara. Pada masa pemerintahan dua Ki Gedeng Sura ini, Palembang dua kali ikut serta menyerang Malaka, yakni pada tahun 1551 dan 1574.

Disebutkan pula dalam cerita sejarah Pathani di Thailand selatan, bahwa negeri itu pernah mendapat serangan dari Jawa-Palembang sekitar tahun 1563. Serangan ke Malaka tahun 1551 dan ke Pathani tahun 1563 mungkin terjadi saat Palembang masih dipimpin oleh Ki Gedeng Sura I/Arya Penangsang, dan serangan ke Malaka tahun 1574 terjadi saat Palembang dipimpin oleh Ki Gedeng Sura II/Arya Mataram.

Djayaningrat menyebutkan dalam bukunya Banten, bahwa pada tahun 1596 Sultan Banten Maulana Muhammad diajak oleh Pangeran Mas (trah Demak yang mengungsi di Banten) untuk menaklukkan Palembang.

Dalam Sadjarah Banten, penguasa Palembang saat itu bernama Soro, bekas abdi nya di Demak. Identik sekali dengan nama Ki Gedeng Sura, mungkin anaknya, karena menurut cerita Palembang, Ki Gedeng Sura II/Arya Mataram berkuasa hanya sampai tahun 1590, maka nama Sura atau Soro mungkin masih dipakai oleh penerusnya. Ini sekaligus menegaskan bahwa sudah tidak ada lagi nama Arya Damar ke-V, dan sudah digantikan dengan Dinasti Sura ini.

Kesimpulan

Sekarang kita sudah menemukan empat tokoh yang memakai nama Arya Damar;

  • Arya Damar I (sekitar antara 1330an s/d 1377an) yang menaklukkan Bali tahun 1343; Diperkirakan bahwa Pangeran Prameswara pendiri Malaka adalah putera dari Arya Damar I ini, demikian pula denganMenak Badong di Bali.
  • Arya Damar-wulan/Arya Damar II (kira-kira antara 1433 s/d sebelum 1470) yang mengalahkan Menak Jinggo. Dia adalah anak raja Majapahit Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana (1389-1416). Dia juga merupakan ayah dari Arya Menak Sunaya di Madura.
  • Arya Dilah/Jaka Dilah/Arya Damar III (kira-kira antara sebelum 1470 s/d 1521) yang ditaklukkan oleh Cu Cu atas perintah raja Majapahit sekitar tahun 1475 dan ikut menyerang Portugal di Malaka tahun 1512 dan 1521. Dia adalah ayah dari Pecattandha Terung Raden Kusen dan Adipati Semarang Raden Sahun/Sunan Pandanarang.
  • Arya Damar IV (kira-kira antara 1521 s/d 1549) yang membantu Demak menaklukkan Portugal di Sundakalapa dan juga menaklukkan Daha/Kadhiri tahun 1527. Dia adalah ayah mertua dari Sultan Trenggana, raja ke-III Demak.

Kemudian digantikan oleh Dinasti Jipang yang memakai nama Ki Gedeng Sura;

  • Ki Gedeng Sura I/Arya Penangsang (1549-1572) yang ikut menyerang Portugal di Malaka tahun 1551 dan juga ikut menyerang Pathani tahun 1563.
  • Ki Gedeng Sura II/Arya Mataram (1572-1589) yang ikut menyerang Portugal di Malaka tahun 1574. Dia adalah adik dari Arya Penangsang.
  • Soro/Ki Gedeng Sura III, mungkin anak Arya Mataram adalah penguasa Palembang yang hendak diserang oleh Banten tahun 1596, namun gagal.
Letak Palembang yang begitu dekat dari Jawa sehingga dengan mudah dapat terjadi hubungan saling mempengaruhi diantara keduanya

Catatan: Tulisan ini masih berupa rintisan yang diolah dari berbagai sumber

.

.

.

INFORMASI:

Redaksi menerima tulisan bertemakan Sejarah dari para pemerhati sejarah untuk ikut menjaga warisan kita bersama bagi anak cucu.

Untuk mendapatkan buku-buku sejarah silahkan akses toko buku online di: https://www.facebook.com/masajiwirabhumi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like