PRABU TAWANGALUN

By. Aji Ramawidi

Raja Besar Terakhir

Dapat dikatakan, nama raja terbesar Balambangan yang terakhir adalah Hyang Hyanging Dalem Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun (1655-1691) biasanya juga ditulis sebagai Tawangalun II. Nama beliau nunggak semi dengan nama ayahnya Menak Seruyu yang juga disebut sebagai Prabu Tawangalun Nyakra atau Tawangalun I, yang berkuasa di Kuthadawung.

Pemerintahan Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun ini dikenal tegas dan kuat. C. Lekkerkerker mengatakan bahwa:

“Camphuys teringat akan sikap Tawangalun terhadap Mataram dan mengutus (lagi) pada tahun 1685 van Vliet ke Blambangan untuk mencoba mengadakan serikat dengan kerajaan ini dalam menentang Surapati. Tetapi Tawangalun tidak setuju.”

C. Lekkerkerker
Patung Tawangalun di Desa Macanputih
(sumber: doc. ajisangkala.id)

Keluarga Tawangalun

Dalam buku Suluh Blambangan telah dirangkumkan bahwa Susuhunan Prabu Tawangalun II memiliki tiga orang isteri utama diantara empat ratus orang isteri yang disebutkan Valentjin.

Yang pertama adalah Sekardewi Irawuni puteri dari salah satu Saptamanggala yang bernama Arya Balater. Puteri asli Blambangan ini melahirkan empat orang anak laki-laki beliau, yakni ;

  • Pangeran Senapati Arya Sasranegara yang tertua,
  • Pangeran Mas Arya Keta Macanagara,
  • Pangeran Arya Kertanegara,
  • Pangeran Mas Arya Gajah Binarong. Pangeran Mas Arya Gajah Binarong adalah kakek buyut dari Mas Ayu Wiwit, pahlawan Perang Bayu tahun 1771.

Isteri kedua adalah Dewi Ayu Sumekar. Ada sumber yang menyebutnya sebagai isteri Sultan Agung Mataram, namun sumber lain menyebutnya puteri dari Raja terbesar Mataram tersebut. Dari isteri kedua ini Susuhunan Prabu Tawangalun II dikaruinia seorang anak laki-laki bernama Pangeran Adipati Mas Macanapura yang menjadi Putra Mahkota.

BACA JUGA  PERJALANAN SPIRITUAL PANGERAN AGUNG WILIS

Sedangkan isteri ketiganya adalah Mas Ayu Sukesih dari Bali. Dari puteri Bali ini kelak lahir seorang anak laki-laki bernama Mas Dalem Wiraguna yang tak lain adalah kakek buyut dari Pangeran Pakis/Mas Rempeg, pahlawan Perang Bayu tahun 1771.

Lukisan Reruntuhan Macanputih tahun 1850

Mendirikan Kota Macanputih

Surahadinegara dalam Babad Tawangalun menuturkan bahwa Prabu Tawangalun yang waktu itu menjadi Pangeran Kedhawung (ke-IV) kemudian mengalah kepada adiknya dan membuka pemukiman baru di Hutan Bayu bersama 40 orang pengikutnya. Lalu beliau bertapa di Pangabekten di kaki Gunung Raung. Setelah tujuh malam beliau mendengar suara bahwa;

“Seekor harimau putih akan membawanya ke hutan Sudimara (Siddha-Meroe). Tempat kerajaan yang baru; Macanputih.”

Babad Tawangalun

Tujuh hari kemudian beliau bertemu dengan Macanputih tersebut dan naik di atas punggungnya hingga ditunjukkan hutan yang dimaksud.

Selanjutnya bersama penduduk Bayu beliau membangun kota baru di tempat tersebut selama lima tahun sepuluh bulan.

Ibukota Balambangan kemudian dipindahkan ke Macanputih. Penduduk dari Kuthadawung pindah ke Macanputih. Dari barat gunung ke timur gunung. Semakin lama semakin banyak penduduk yang ikut pindah, disebutkan hingga mencapai lebih dari 2.000 jiwa. Belum termasuk anak-anak.

Dijelaskan oleh Aji Ramawidi bahwa Istana Macanputih berdiri pada posisi yang sangat strategis, diapit dua sungai dan dikelilingi lahan persawahan yang luas. Karena terletak di dataan tinggi, dari sana pula pantai Supitan Balambangan (kini Selat Bali) dapat dilihat, sehingga jika Balambangan kedatangan musuh dapat segera diantisipasi.

Peta Kolonial tahun 1750 saat Selat Bali masih bernama Selat Balambangan (Detroit de Ballanbuan)

Menurut cerita dari Bali gelar beliau adalah Hyang Hyanging Dalem Tawangalun, sedangkan menurut T. Surahadinegara nama beliau adalah Kangjeng Suhunan Tawangalun. Apapun itu, keduanya menunjukkan betapa besarnya pengaruh beliau.

Kekuasaan dan Pengaruh Tawangalun

Kekuasaan dan Pengaruh Prabu Tawangalun
(doc. ajisangkala.id)

Jangkauan kekuasaan Kangjeng Suhunan Prabu Tawangalun digambarkan oleh Raffles bahwa pada tahun 1619, pasukan perang Balambangan mencapai sebelah selatan Kediri, kemudian ke Pasuruan. Hal ini didukung oleh tulisan De Graff yang menyatakan bahwa setelah Trunajaya takluk pasukan perang Balambangan berkeliaran di selatan Surabaya. Dan selanjutnya De Graff juga mengatakan bahwa saat benteng Karaeng Galesong di daerah Demong (Besuki) dibuka, di dalamnya terdapat 2.000 orang prajurit Balambangan.

BACA JUGA  PRAMESWARA PENDIRI MALAKA

Angkatan Perang Balambangan di masa Tawangalun

Patung Prabu Tawangalun di depan Kantor Desa Macanputih (doc. ajisangkala.id)

Disebutkan di atas, bahwa Sekardewi Irawuni adalah puteri dari salah satu Sapta Manggala yakni Arya Balater. Sapta Manggala adalah tujuh perwira dan di Balambangan selain menjadi perwira, mereka juga merupakan para sesepuh penasihat raja.

T. Surahadinegara menyebutkan ketujuh nama Saptamanggala yang menjabat pada masa pemerintahan Susuhunan Prabu Tawangalun II yakni;

  • Arya Balater yang tak lain adalah ayah mertua raja,
  • Arya Jaganegara,
  • Arya Jagapralaya,
  • Arya Macanguguh,
  • Arya Purusa/Arya Jaya Purusa,
  • Arya Bunut, dan
  • Arya Kedut/Ketut.

Aji Ramawidi juga menegaskan bahwa masing-masing dari mereka memiliki tanah lungguh sendiri, seperti yang masih dapat kita lihat saat ini, tanah lungguh Arya Balater di Kotablater Jember dan makam Arya Bunut di dusun Krajan Purwoharjo. Babad Tawangalun sendiri diduga memiliki silsilah periwayatan salah satunya melalui tokoh bernama Sembah Bunut yang tak lain adalah Arya Bunut ini.

Arya Bunut dan Arya Balater

Masing-masing mereka memegang 7.000 prajurit. Jadi ada 49.000 prajurit Balambangan saat itu.

“Blambangan telah menawan 40.000 orang prajurit Mataram yang “bagaikan ikan yang mendambakan air, menantikan saat mereka dibebaskan”. Bantuan untuk mereka memang sangat diperlukan, tetapi sukar diberikan karena Balambangan mempunyai kekuatan 12.000 lasykar dan 500 lasykar Bali yang bersenjata tombak dan sumpit berbisa.”

De Graaf

Mengenai jumlah prajurit Balambangan yang diterjunkan untuk menundukkan daerah-daerah di sebelah barat, yakni Malang, Blitar, Kediri hingga perbatasan Pasuruan, rupanya adalah 12.000 orang saja, ditambah 500 orang Bali. Artinya hanya seperempat dari jumlah total kekuatan Balambangan yang mencapai 49.000 prajurit sebagaimana disebutkan dalam Babad Tawangalun. Itupun sudah dapat menawan 40.000 tentara Mataram.

Peta Jawa di era Prabu Tawangalun
Sumber : Asiae Vova Delineatio by Van Der Hagen (1681)

Penghormatan Masyarakat Terhadap Tawangalun

Saat ini, sebagai bentuk penghormatan Masyarakat terhadap nama besar seorang raja Balambangan ini, banyak kita temui nama beliau dijadikan berbagai nama objek vital publik, diantaranya:

  1. Universitas Tawangalun (saat ini menjadi UNEJ Jember) di Jember
  2. Kereta Api Tawangalun jurusan Banyuwangi-Malang
  3. GOR Tawangalun di Banyuwangi
  4. Terminal Tawangalun di Jember
  5. Stasiun Radio Swasta Tawangalun di Banyuwangi
  6. Pura Segara Tawangalun di Banyuwangi
  7. Dll yang lebih kecil
BACA JUGA  EMPAT TOKOH ARYA DAMAR
Penghormatan Masyarakat dan Pemerintah dalam bentuk Pengabadian Nama Tawangalun sebagai nama beberapa Objek Vital Publik

Bahan Bacaan

  1. Babad Tawangalun
  2. Babad Sembar
  3. C. Lekkerkerker, De Indische Gids
  4. De Graaf, Runtuhnya Kekuasaan Mataram
  5. Ramawidi, Suluh Blambangan
  6. Winarsih, Babad Blambangan
4 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like