SEJARAH KERAJAAN DEMAK, Prespektif Lain

Oleh: Aji Ramawidi

PENGANTAR

Ternyata menurut bukti-bukti primer dan juga dari referensi-referensi tertua sebelum adanya Babad Tanah Jawi yang kita kenal sekarang ini, kabar runtuhnya Majapahit (1400S/1478M) tidak ada hubungannya dengan Demak. Lantas apa yang dilakukan Demak saat peristiwa 1478M itu terjadi?

Mari kita bicarakan asal-usul Kerajaan Demak dan dinastinya dengan sudut pandang yang –sebisa mungkin tidak menggunakan sumber dari Babad Tanah Jawi, apalagi buku Tuanku Rao yang kacau itu.

Di sini, Penulis akan menggunakan Sajarah Banten dan Suma Oriental serta keterangan-keterangan dari De Graaf yang lebih masuk akal.

ASAL-USUL DINASTI DEMAK

Perkiraan Lokasi Demak di masa lalu

Demak adalah sebuah daerah yang sudah ada sejak jaman Majapahit akhir. Setidaknya pada 1470-1475, penguasa Demak sudah diutus untuk menyelesaikan masalah-masalah di Cirebon dan Palembang oleh raja Majapahit saat itu, Dyah Suraprabhawa (1466-1478).

Penguasa Demak yang dimaksud ini telah disebutkan dalam beberapa sumber berbeda, namun memiliki keterkaitan;

  1. Menurut Suma Oriental; (1) Moyang dari Gresik [tidak disebutkan nama]; (2) Pate Rodim Sr.; (3) Pate Rodim Jr.
  2. Menurut Sadjarah Banten; (1) Patih Raja China [tidak disebutkan nama]; (2) Cu Cu alias Arya Sumangsang alias Prabu Anom; (3) Ki Mas Palembang.
  3. Menurut Hikajat Hasanuddin; (1) Cek Ko Po dari Munggul; (2) Pangeran Palembang Anom alias Molana Arya Sumangsang; (3) Molana Trenggana.
  4. Menurut Catatan Cornelis de Bruin; (1) Co-Po dari Moechoel; (2) Arya Sumangsang; (3) Arya Trenggana.

Jika dikombinasikan maka, para penguasa Demak awal adalah sebagai berikut;

  1. Cek Ko Po/Co-Po yaitu Patih Raja China/ Munggul/Moechoel yang pindah ke Gresik.
  2. Pate Rodim Sr. alias Cu Cu alias Molana Arya Sumangsang alias Prabu Anom/Pangeran Palembang Anom.
  3. Pate Rodim Jr. alias Ki Mas Palembang alias Molana Trenggana alias Arya Trenggana.

KISAH PATIH CINA

Masjid Agung Demak

Kisah dinasti ini dimulai dari perjalanan Patih Raja China/Mongol ke Gresik di Jawa. Nama patih tersebut di sini akan Penulis sebut Cek Ko Po. Perhatikan kutipan dari Sajarah Banten sebagaimana disebutkan dalam Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten oleh Hoesein Djajadiningrat berikut ini;

“Syekh Jumadilakbar tiba di China untuk mengislamkan raja. Tetapi dia tidak berhasil. Ketika didengarnya suara yang mengatakan Raja China akan tetap menjadi kafir, berangkatlah dia ke Jawa dengan sebuah kapal dari Gresik…

“Diperintahkan patihnya mencari Syekh itu… akhirnya tibalah dia di Garesik, dengan kedua anak laki-lakinya Cucu dan Cunceh, dia memeluk agama Islam dan meninggal di situ. Cunceh pun meninggal dunia dan Cucu bekerja pada Gajah Mada dan kemudian pada raja…”

Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten

MENJADI BUDAK BELIAN

Kedatangan rombongan Patih Raja China ke Gresik ini mungkin tidak berjalan lancar-normal. Ada kemungkinan kapal yang mereka tumpangi karam dan kemudian ditemukan oleh pedagang yang kemudian menjual mereka sebagai budak. Status mereka seketika berubah dari kedudukan mulia menjadi budak belian.

BACA JUGA  PERJALANAN SPIRITUAL PANGERAN AGUNG WILIS

Dugaan seperti itu muncul dari keterangan De Graaf mengutip Suma Oriental. De Graaf menjelaskan bahwa kakek Pate Rodim Jr. (Trenggana) adalah seorang “Budak Belian” dari Gresik (Pires, Suma Oriental, hal. 183-184); yang dimaksud dengan “Budak Belian” adalah kawula, abdi.

Orang dari Gresik ini konon telah mengabdi kepada penguasa di Demak (raja rawahan dari Maharaja Majapahit?).

Dalam karyanya yang lain, Cina Muslim di Jawa abad XV dan XVI, De Graaf menduga bahwa raja bawahan Majapahit di Demak itu adalah yang dalam cerita-cerita Jawa dikenal dengan nama Lembu Sura.

“Orang itu oleh penguasa Demak diangkat menjadi Capitan (Senapati, pen), dan kemudian ditugasi memimpin ekspedisi melawan Cirebon, yang waktu itu masih kafir. Cirebon dapat direbut pada tahun 1470; dan Capitan yang telah mendapat kemenangan itu dihadiahi gelar Pate (Patih) oleh tuannya.”

De Graaf

Menurut Penulis, yang mengangkat Cek Ko Po menjadi Patih ini bukan Lembu Sura akan tetapi raja Majapahit sendiri, yakni Dyah Suraprabhawa.

Jadi ada kemungkinan Cek Ko Po diangkat menjadi Patih Demak sementara penguasa yang lama yakni Lembu Sura dipindahkan menjadi penguasa di Surabaya, karena di sana juga ada tokoh bernama Lembu Sura.

PATE RODIM SENIOR

Ilustrasi Raden Patah (Wikipedia)

Tidak berapa lama kemudian Cek Ko Po mangkat. Mungkin saat berada di Gresik sebagaimana dalam keterangan.

Kemudian kedudukannya di Demak digantikan oleh anaknya, Cu Cu, atau yang oleh Hoesien Djajadiningrat biasa ditulis Cucu. Tokoh ini sepadan dengan tokoh kedua dalam Suma Oriental yaitu Pate Rodim Senior (Sr.).

Kisah mengenai Cu Cu ini pada masa Majapahit pernah berjasa dalam menghadapi pemberontakan Ki Dilah, penguasa Palembang.

Dalam Sadjarah Banten disebutkan;

“…Cucu dikirim ke Palembang. Arya Dilah tetap siap dengan pasukan-pasukannya. Ketika didengarnya bunyi Gong Maesa Lawung, dipikirnya bahwa raja sendiri yang telah datang. Dia menyerahkan diri dan dibawa ke Majapahit. Cucu dinaikkan pangkat dengan gelar Arya Sumangsang dan bahkan mendapat seorang putri sebagai istri.”

Sadjarah Banten

Berikut ini dalam narasi De Graaf;

“Maharaja bahkan telah menghadiahkan kepadanya seorang putri Majapahit sebagai istri.”

De Graaf

MENJADI PRABU ANOM

Demak di bawah Majapahit (Sumber: YouTube Lazuardi Wong Jogja)

Beberapa waktu kemudian Palembang kembali tidak taat dan untuk kedua kalinya Cu Cu/Arya Sumangsang dikirim ke sana untuk mengatasinya. Kali ini dia dibekali Keris Kala Cangah dan kembali berhasil menyelesaikan tugas dengan baik sehingga mendapat penghargaan lagi dari raja Majapahit –yang kini adalah mertuanya itu.

BACA JUGA  BRAWIJAYA, RAJA DAHA

Baik Hoesein Djajadiningrat maupun De Graaf sama-sama memberitakan kisah ini karena keduanya sama-sama mengutip dari Sadjarah Banten.

Demikian menurut De Graaf;

“Cu-Cu Sumangsang dihadiahi gelar mulia Prabu Anom oleh Maharaja Majapahit. Anaknya yang sementara itu lahir, pada kesempatan itu telah diberi nama Ki Mas Palembang.”

De Graaf

Menurut Hoesien Djajadiningrat;

“Sekarang Arya Sumangsang mendapat gelar Prabu Anom. Dalam pada itu, istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki, yang dinamai Ki Mas Palembang.”

Hoesien Djajadiningrat

Jadi menurut sumber-sumber yang lebih tua dari Babad Tanah Jawi, penguasa Demak ternyata bukan putra Brawijaya V, melainkan adalah menantu dari Maharaja Dyah Suraprabahwa, rajabterakhir Majapahit yang berkuasa antara tahun 1466-1478.

Cu Cu menikah dengan putri Majapahit, anak dari Dyah Suraprabhawa, dan dikaruniai putra bernama Ki Mas Palembang alias Arya Trenggana.

Sehingga demikian, Cu Cu alias Arya Sumangsang alias Prabu Anom inilah yang dalam cerita Jawa disebut dengan nama Raden Patah ayah Sultan Trenggana.

Makam Raden Patah (Wikipedia)

PEMBERONTAKAN SANG MUGGWING JINGGAN 1478M

Ketika Majapahit runtuh karena pemberontakan Dyah Samarawijaya/Sang Muggwing Jinggan dan adik-adiknya; (1) Girindrawardhana Dyah Suryawikrama, (2) Girindrawardhana Singawardhana Dyah Wijayakusuma, dan (3) Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, dengan pasukan Keling tahun 1478, saat itu Prabu Anom Arya Sumangsang sudah berkuasa di Demak beberapa tahun.

Dan begitu tahu bahwa tahta MERTUANYA direbut paksa oleh sepupu-sepupu dari istrinya itu, Cu Cu menyatakan Demak sebagai Kerajaan Merdeka, tidak mau tunduk mengakui kekuasaan para pemberontak dari Keling tersebut.

Demikian pula para penguasa dari Surabaya, Giri Kadhaton, Lamajang, Balambangan, dan lain-lain. Mereka juga tidak mau tunduk pada pemerintahan baru di Keling.

Sementara para adipati muslim pesisir, mereka kemudian membentuk semacam Persekutuan Adipati Pesisir dengan Cu Cu alias Prabu Anom Arya Sumangsang ditunjuk sebagai pemimpin persekutuan tersebut, terutama dalam berhadap-hadapan dengan Keling.

PATE RODIM JUNIOR

Peta Jawa setelah Sultan Trenggana mengalahkan Kediri (Sumber: YouTube Lazuardi Wong Jogja)

Tahun 1504/1505, Cu Cu alias Prabu Anom Arya Sumangsang alias Pate Rodim Sr. mangkat. Putranya yang bernama Ki Mas Palembang alias Arya Trenggana (cucu Dyah Suraprabhawa) naik tahta Kerajaan Demak, sebagai raja kedua.

BACA JUGA  NEGERI-NEGERI DI JAWA SAAT KUNJUNGAN TOME PIRES (1513)

Namun yang menjadi pemimpin Persekutuan Adipati Pesisir adalah Pate Onus (1504-1521), adipati Jepara (Suma Oriental) atau Pangeran Sabrang Lor (Babad Tanah Jawi) yang merupakan menantu dari Prabu Anom Arya Sumangsang.

Tahun 1521, Pate Onus mangkat dalam ekspedisi ke Malaka. Arya Trenggana kemudian menjadi pemimpin Persekutuan Adipati Pesisir yang ketiga.

Setelah Arya Trenggana menjadi Raja Demak sekaligus pemimpin persekutuan Adipati Pesisir, Demak berubah menjadi negeri yang ekspansionis. Dia menghendaki para adipati lainnya tunduk di bawah panji-panji Demak. Sejak itulah kadipaten-kadipaten lainnya dia taklukkan satu persatu.

EKSPANSI DEMAK

Jangkauan dan Pengaruh Demak

Dari Babad Sangkala yang dikutip De Graaf dalam Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, kita menemukan jejak sebagai berikut;

~1448S/1527M Penaklukkan Kediri dan Tuban
~1450S/1528M Penaklukkan Wirasari
~1451S/1529M Penaklukkan Gegelang/Madiun
~1452S/1530M Penaklukkan Medangkungan di Blora
~1453S/1531M Penaklukkan Surabaya
~1455S/1535M Penaklukkan Pasuruan
~1462S/1541M-1464S/1542M Penaklukkan
Lamongan, Blitar, dan Wirasaba
~1465S/1543M Penaklukkan Penanggungan
~1466S/1544M Penaklukkan Mamenang/Kediri
~1467S/1545M Penaklukkan Sengguruh
~1468S/1546M Penaklukkan Balambangan (tapi gagal, pen)

Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa

Kita bandingkan dengan Tabel Kronologi Kejadian-Kejadian yang dicatat oleh Raffles dalam Histori of Java sebagai berikut;

~1400S/1478M Runtuhnya Majapahit
~1403S/1481M Berdirinya Demak
~1419S/1497M Berdirinya Gegelang/Madiun
~1421S/1499M Berdirinya Surabaya
~1439S/1517M Kehancuran Panjer karena kebakaran
~1448S/1526M Penaklukkan Kediri
~1449S/1527M Penaklukkan Tuban
~1450S/1528M Penaklukkan Wirasari
~1451S/1529M Penaklukkan Gegelang/Madiun
~1452S/1530M Penaklukkan Medangkungan
~1453S/1531M Penaklukkan Surabaya
~1455S/1533M Penaklukkan Pasuruan
~1462S/1540M Penaklukkan Panarukan (Pajarakan?)
~1464S/1542M Penaklukkan Lamongan, Blitar, dan Wirasaba
~1465S/1543M Penaklukkan Penanggungan
~1466S/1544M Penaklukkan Pamenang/Kediri
~1467S/1545M Penaklukkan Singasari
~1468S/1546M Penaklukkan Balambangan (tapi gagal, pen)
~1469S/1547M Penaklukkan Sing’ara (Sengguruh) menjadi bagian dari Balambangan

History of Java

Meskipun terdapat beberapa perbedaan, sepertinya keduanya menggunakan sumber yang sama yakni Babad Sangkala.

Arya Trenggana mangkat dalam upaya menaklukkan para pelarian dari Daha/Kediri di Panarukan tahun 1546. Kemudian pasukan Demak ditarik mundur sehingga Panarukan (dan Balambangan) tetap dalam kemerdekaannya.

Dari keterangan Raffles, kita tahu bahwa Balambangan kemudian berhasil merebut Sengguruh menjadi bagian dari Balambangan.

Sementara itu kejayaan Demak mulai tenggelam karena perebutan tahta antar penerusnya. Sepeninggal Arya Trenggana, putranya yang bernama Mukmin menjadi raja ketiga. Sedangkan yang menjadi pemimpin persekutuan adalah Adipati Surabaya, Panji Wiryakrama.

BAHAN BACAAN:

De Graaf, Cina Muslim di Jawa abad XV dan XVI.
De Graaf & Pigeaud, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten.
Raffles, History of Java.

2 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

PRABU TAWANGALUN

By. Aji Ramawidi Raja Besar Terakhir Dapat dikatakan, nama raja terbesar Balambangan yang terakhir adalah Hyang Hyanging Dalem…