“SENJA DI KALI BRANTAS”

Pada tahun 1624, Madura jatuh ke pangkuan Kesultanan Mataram dengan pemimpin perangnya Ki Juru Kithing alias ” Macan Mataram “
Semua itu dilaporkan kepada Gustinya di Kutha karta

” bagus paman, aku telah mendengar kehebatan-kehebatan dan keberanian pasukan kita. Aku bangga paman.
Aku memberi apresiasi yang sebesar-besarnya kepada paman dan seluruh pasukan yang mampu menaklukkan Madura. Aku juga turut berbela sungkawa atas tewasnya pasukan kita saat penyerangan di Sumenep dan Pamekasan terutama untuk Pangeran Slorong dan Pangeran Suyono yang gugur sebelumnya “
ucap Sultan Agung Hanyokrokusumo

” sudah menjadi fitrah seorang ksatria gugur dalam medan pertempuran Gusti.
Hal itu jangan mengecilkan hati Paduka
” ucap Ki Juru Kithing menenangkan

” ya paman, aku paham itu.
Lalu siapa anak kecil itu paman ? ”
tanya Sultan Agung

” dia adalah Raden Praseno putra Raden Pratanu penguasa Madura barat.
Dia hamba bawa kemari karena hamba iba melihatnya sebagai yatim piatu Gusti “

” hai kamu, Praseno kemarilah ”
anak itu mendatangi Sultan Agung Hanyakrakusuma

” saat ini kamu jangan takut kepadaku.
Kamu boleh panggil aku romo, anggap aku sebagai ramandamu ya.. ”
anak kecil itu hanya mengangguk tanda setuju

Sendiko dhawuh kanjeng ” ucap dayang

” ampun Gusti, kita sudah menaklukkan Madura yang tidak lain adalah koalisi Surabaya.
Saat ini Kadipaten Surabaya sudah kekurangan aliansi untuk membantunya, lalu apa yang kita lakukan selanjutnya
? Kawula dalem siap menerima dhawuh dalem Sinuwun” tanya Ki Juru Kithing


” benar paman, sudah sepantasnya kita melakukan penyerangan lagi ke Surabaya.
Setelah tiga kali kita gagal menaklukkan kadipaten itu, saat ini kita tidak boleh gagal lagi paman. Maka dari itu kita harus menyiapakan persiapan dengan sematang-matangnya ! “
titah Sultan Agung Hanyakrakusuma

” Dhawuh dalem kulo sinuwun.
Hamba akan laksanakan “


Sementara itu, Adipati Surabaya Pangeran Jayalengkara marah besar atas berita takluk nya Madura ditangan Sultan Agung Hanyakrakusuma

” kurangajar !!
Posisi kita saat ini sudah semakin terjepit, tapi hal ini tidak boleh menjadikan kita lemah !
Jangan membuat lemah pasukan kita dengan berita-berita ini, kakang Suranggono kuat kan pasukan dan lipat gandakan penjagaan karena bukan tidak mungkin Sultan Agung Biadab itu akan mengincar Surabaya untuk yang kesekian kalinya !
Kita sudah berhasil mengusir mereka berkali-kali maka kapanpun Mataram menyerang kita akan mampu mengusirnya lagi untuk kesekian kalinya “


” ampun Gusti Adipati, tapi nampaknya jika pun akan ada penyerangan kembali saya yakin Sultan Agung akan mengerahkan kekuatannya dengan penuh seperti halnya penaklukan madura.
Setidaknya kita harus dapat melipat gandakan pasukan di daerah-daerah perbatasan ”
ucap patih Suranggono

” ya benar kakang, kali ini kita pusat kan pasukan diperbatasan-perbatasan.
Jangan sampai lengah sedikitpun ! “
titah Adipati Jayalengkara

” sendiko kanjeng “


Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *