Situs Pocangsari Sukowono-Jember

Baru-baru ini sempat viral penemuan benda purbakala dikawasan Jember Timur berupa struktur batu bata kuno yang terpendam di areal persawahan yang terletak di dusun Sumber Nangka desa Ledokombo-Jember. Situs tersebut lebih dikenal warga sekitar dengan sebutan candi “Toh Sapeh“. Disebut demikian karena memang dahulunya di areal persawahan tempat ditemukannya situs tersebut terdapat arca Sapi atau Lembu-Nandi yang dalam bahasa madura disebut dengan istilah “Toh Sapeh” yang berarti batu sapi.

Struktur Bata pada situs candi “Toh Sapeh” Ledokombo

Kendati saat ini situs tersebut telah dikubur kembali oleh pemilik lahan dikarenakan sebab musabab tertentu, paling tidak dengan adanya temuan ini, dapat sedikit membuka mata dan wawasan kita bahwa di wilayah Jember bagian timur yang selama ini dipandang kering dari tinggalan sejarah era klasik, kini mulai menemukan setetes air yang dapat memuaskan rasa dahaga penasaran kita akan adanya eksistensi kehidupan manusia zaman dahulu yang pernah mendiami kawasan sekitar lereng barat gunung Raung, terutama eksistensi kehidupan pada era zaman klasik Hindu-Budha.

Kali ini penulis tidak sedang ingin mengkaji tentang situs Toh Sapeh dengan lebih mendalam, mari kita ikhlaskan situs tersebut kembali terpendam dengan sejuta tanda tanya dan rasa penasaran yang tak akan pernah mungkin ikut terbenam. Walaupun hanya menampakkan sesaat, kemunculannya sudah cukup memberikan kode serta gambaran bahwa di wilayah Ledokombo dahulunya pernah ada eksistensi manusia zaman klasik dengan segala pernak-pernik kehidupan sosial dan spiritualitasnya yang menghasilkan kebudayaan berupa benda berbentuk struktur bangunan yang masih bertahan dan bisa kita lihat wujudnya hingga saat ini.

Buju’ Pocang dan Situs Pocangsari

Berbicara mengenai tinggalan jejak zaman klasik di kawasan Jember Timur/lereng barat Raung, terletak tidak begitu jauh dari situs Toh Sapeh Ledokombo sebenarnya sejak dahulu telah terlebih dahulu diketahui adanya situs klasik yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi, yakni Situs Pocangsari yang terletak di desa Pocangan kecamatan Sukowono-Jember. Situs Pocangsari diketahui menyimpan tinggalan kekunoan berupa dua buah batu Yoni tanpa Lingga yang terletak ditengah areal persawahan milik warga.

BACA JUGA  Melihat Masa Lalu Bondowoso dari Desa Alas Sumur

Situs Pocangsari dikenal oleh warga sekitar sebagai “Asta“. Penyebutan Asta bagi tempat ini bukannya tanpa alasan, tepat disisi kedua Yoni tersebut terdapat makam seorang Buju’ yang oleh warga sekitar disebut Buju’ Pocang. Istilah “Buju’ ” dalam bahasa Madura berarti orang linuwih yang dituakan atau dihormati di suatu desa tertentu. Penyebutan buju’ biasanya cenderung disematkan kepada seseorang yang berjasa dalam pembukaan lahan maupun pemukiman suatu desa.

Buju’ Pocang sendiri diyakni oleh warga sekitar sebagai orang pertama yang babat desa Pocangan, sehingga atas dasar itulah nama desa ini dikemudian hari dikenal dengan nama desa Pocangan, konon ia berasal dari Madura dan masih memiliki kekerabatan dengan raja Sumenep dan difoklore yang berkembang dari cerita masyarakat ia diceritakan mampu terbang dengan mengendarai songsong atau payung dari Sumenep ke Pocangan.

Tentu ini masih merupakan cerita rakyat yang dibalut mitos yang tentunya perlu kearifan dan kebijaksanaan untuk tidak terlalu mempertentangkannya, serta memerlukan penelitian ilmiah yang lebih mendalam agar cerita foklore semacam ini bisa naik tingkatan menjadi fakta sejarah.

Makam Buju’ Pocang atau yg lebih dikenal dengan istilah “Astah” cukup dikeramatkan oleh warga sekitar, dikarenakan kedua Yoni tersebut berada tepat disisi makam Buju’ Pocang sehingga oleh warga sekitar Kedua Yoni itu juga ikut terawat dan terjaga. Mungkin ada alasan khusus mengapa makam buju’ Pocang ditempatkan tepat pada arial situs tersebut, bisa saja tempat itu dipilih dikarenakan situs tersebut memiliki daya spiritualitas yang bagus, mengingat keberadaan Lingga-Yoni merupakan salah satu indikator adanya tempat peribadatan bagi pemeluk agama Hindu aliran Siwa di masa lampau.

Yoni di Pocangsari

Yoni merupakan salah satu media atau objek penting pada ritual pemujaan agama Hindu (Siwa). Yoni merupakan wujud an-iconic dewi Parwati yang dalam arti luas bisa dimaknai sebagai perlambang kesuburan. Yoni biasanya dipasangkan dengan Lingga sebagai perlambang Dewa Siwa yang dalam arti luas dapat dimaknai sebagai bentuk maskulinitas. Lingga dan Yoni biasanya dihubungkan dengan keberadaan candi persembahyangan. Namun terkadang Yoni sering ditemukan tanpa pasangannya yakni Lingga dan tak jarang pula Yoni juga sering berada di areal lahan maupun ladang persawahan karena yoni sendiri melambangkan kesuburuan yang diharapkan dapat membawa kesuburan lahan dimana yoni tersebut di tempatkan.

BACA JUGA  PENGHUNI PERTAMA UJUNG TIMUR JAWA
Sepasang Yoni di Situs Pocangsari-Sukowono

Berikut ini merupakan data spesifikasi kedua Yoni di situs Pocangsari, desa Pocangan-Sukowono-Jember:

  • Yoni Pocangan 1

Tinggi : 46 cm

Lebar Sisi Atas : 48,9 cm

Lebar Sisi Bawah : 52,5 cm

Tebal Palung : 14,9 cm

Bahan : Batuan Sedimen.

*Keterangan : Garis berpola horizontal dan cendrung lebih artistik, bagian carat masih utuh, serta sisi bawah nampak lebih lebar dari sisi atas. Bentuk yoni segi empat dengan hiasan pelipit pada sisi luarnya. Bentuk lubang segi empat sedangkan cerat masih utuh. Kondisi baik dan terawat.

  • Yoni Pocangan 2


Tinggi : 46 cm
Lebar Sisi Atas : 48,9 cm
Lebar Sisi Bawah : 52,5 cm
Tebal Palung : 14,9 cm
Bahan : Batuan Sedimen.
*Keterangan : Garis berpola horizontal dan cendrung artistik, bagian carat masih tidak utuh, serta sisi bawah nampak lebih lebar dari sisi atas. Bentuk yoni segi empat dengan hiasan pelipit pada sisi luarnya. Bentuk lubang segi empat sedangkan cerat masih utuh,Kondisi baik dan terawat.

Selama penelusuran dilokasi, penulis sempat mewawancarai seseorang yang kebetulan pemilik ladang di sekitar situs Pucangsari. Dari keterangan beliau yang penulis lupa menanyakan identitasnya menuturkan jika orang tuanya dulu pernah menceritakan di situs tersebut dulunya pernah ditemukan sepasang arca laki-laki dan perempuan berbahan batu yang berukir cukup indah. Sepasang Arca tersebut sempat dibawa pulang, dikarenakan sering mengalami hal-hal mistis selama menyimpan sepasang arca tersebut maka lantas kemudian kedua arca itu dikembalikan dan dipendam di titik lokasi tertentu. Tak ada yang tau pasti dimana lokasi kedua arca tersebut dikubur dan bahkan kepada anaknya sendiri pun kedua orang tua si penutur ini tidak pernah memberi tahu hingga akhir hayatnya.

Jika cerita diatas memang benar adanya, kemungkinan besar sepasang Arca di situs Pocangsari tersebut merupakan arca perwujudan dari Dewa Siwa dan isterinya Dewi Parwati, hal ini berdasar pada temuan di berbagai tempat di Nusantara dimana situs yang didalamnya terdapat Lingga-Yoni memiliki kecendrungan bahwa situs tersebut dahulunya dijadikan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Selain itu disekitar lokasi, penulis juga menemukan beberapa potongan batu bata berukuran cukup besar yang bisa saja batu bata tersebut dahulunya merupakan bekas serpihan struktur bangunan candi pemujaan yang ada dilokasi situs Pocangsari.

BACA JUGA  BANYUALIT; Pelabuhan Internasional dan Benteng Kerajaan Balambangan

Namun demikian, hal ini tentunya hanyalah merupakan sebuah tafsir bebas penulis semata berdasarkan keterangan dan tatenger yang ada dilokasi situs Pocangsari, tentunya sebagai bagian dari cabang ilmu pengetahuan, ilmu sejarah dan arkeologi sangat terikat oleh yang namanya standart dan kaidah keilmiahan dalam penerapannya. Sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut oleh para ahli serta dibutuhkan bukti-bukti sumber sejarah yang lebih banyak lagi untuk mengungkap tabir apa sebenarnya yang ada dibalik tirai masa lalu situs Pocangsari Sukowono ini.

Selain itu, sekitar 10 meter di sisi timur dimana kedua yoni itu berada, terdapat pula sumber air yang cukup besar. Menurut penuturan warga sekitar, air di sumber tersebut tidak pernah kering meskipun datang musim kemarau panjang, bahkan volume debit airnya mampu mencukupi kebutuhan irigasi areal persawahan serta kebutuhan air minum dan mandi warga sekitar. Ini pula yang semakin menambah rasa penasaran serta rasa ke-ingin tahuan penulis apakah ada keterkaitan antara situs pocangsari dengan sumber air disampingnya.

Semoga kedepan situs Pocangsari ini bisa diadakan penelitian dan pengkajian lebih mendalam, sebagai bagian dari upaya mengungkap kehidupan masa lalu agar generasi di masa depan bisa mengetahui indahnya dinamika kehidupan masa lalu yang tak kan pernah terulang kembali pada masa kini, dan tentunya yang terpenting adapah situs tersebut dapat dijadikan sebagai media pembelajaran dimasa mendatang.

Penulis hanya menginformasikan selebihnya anda lah yang menyimpulkan. Semoga bermanfaat.

Shindu Brama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like